Skip to content

PortalPermainan

Temukan panduan lengkap, berita terkini, dan komunitas untuk semua gamer Indonesia.

Primary Menu
  • Beranda
  • Ulasan Game
  • Tips & Trik
  • Game Mobile
  • eSports
  • Home
  • Ulasan Game
  • Afterlife the Game: Ulasan Lengkap Gameplay, Cerita, dan Apakah Layak Dimainkan?
  • Ulasan Game

Afterlife the Game: Ulasan Lengkap Gameplay, Cerita, dan Apakah Layak Dimainkan?

Ahmad Farhan 2026-01-30

Afterlife the Game: Ulasan Lengkap Gameplay, Cerita, dan Apakah Layak Dimainkan?

Kamu mungkin sedang membaca ini karena bingung. Steam atau toko digital lain lagi ada promo, thumbnail Afterlife yang gelap dan misterius itu menarik perhatian, tapi review-nya campur aduk. Ada yang bilang “masterpiece tersembunyi”, ada yang komplain “membosankan dan buggy”. Sebagai pemain yang sudah menghabiskan sekitar 25 jam untuk menyelesaikan Afterlife plus eksplorasi, saya akan memberikan ulasan jujur. Bukan sekadar rangkuman poin plus-minus, tapi analisis mendalam untuk siapa game ini sebenarnya cocok, dan mengapa kontroversi itu ada. Saya akan bahas gameplay, narasi, teknis, dan yang paling penting: apakah waktu dan uangmu layak diinvestasikan ke sini?

A moody, atmospheric isometric view of a dark cityscape from Afterlife the Game, with neon signs reflecting on wet pavement, soft blues and deep purples dominating the color palette, a lone shadowy figure visible in the distance high quality illustration, detailed, 16:9

Analisis Gameplay: Antara Kedalaman Strategi dan Pace yang Menantang

Inti dari Afterlife adalah eksplorasi dan manajemen sumber daya dalam dunia pascakiamat yang dikemas dengan gaya isometric RPG. Bagi yang mengharapkan combat cepat ala Diablo, siap-siap kecewa. Di sini, setiap keputusan punya bobot.
Loop Utama yang Membuat Ketagihan (atau Frustrasi)
Gameplay berputar pada tiga pilar: Eksplorasi, Crafting, dan Hubungan. Kamu dikirim ke distrik-distrik kota yang runtuh untuk mengumpulkan scrap, komponen elektronik, obat-obatan, dan catatan cerita. Yang membuatnya menarik adalah sistem keausan alat dan kapasitas inventori yang sangat ketat. Palu biasa bisa patah setelah membuka 5-6 peti. Ini memaksa kamu untuk memprioritaskan: bawa lebih banyak alat cadangan, atau sisakan ruang untuk barang langka? Di sinilah letak “kesenangan” bagi pemain tipe tertentu. Saya sendiri sering kali harus mundur dari gedung yang menjanjikan karena tas sudah penuh dan kesehatan menipis, sebuah perasaan risk-reward yang autentik.
Komponen RPG dan Percakapan
Progresi karaktermu tidak berdasarkan level, tapi pada perkembangan skill melalui penggunaan. Semakin sering kamu mengunci-pilih, skill Lockpicking meningkat, mengurangi kemungkinan jamming. Sistem ini solid dan memberi rasa pencapaian. Namun, bagian dialog dan skill check agak mengecewakan. Meski pernyataan resmi dari pengembang di Steam Community menyebutkan sistem percakapan yang dinamis, pada praktiknya, pilihan dialog sering kali hanya mengarah pada satu atau dua hasil yang sama. Skill check seperti “Persuasi” atau “Pengetahuan Medis” lebih berfungsi sebagai jalan pintas daripada mengubah narasi secara signifikan.
Kelemahan Gameplay yang Nyata
Harus diakui, pace game ini lambat. Tidak ada fast travel. Perjalanan antar-distrik memakan waktu nyata 1-2 menit diiringi pemandangan yang pada dasarnya sama. Bagi sebagian orang, ini membangun atmosfer; bagi yang lain, ini membosankan. Selain itu, AI companion kadang bermasalah. Mereka bisa tersangkut di pintu atau tidak bereaksi saat musuh mendekat, yang dalam situasi stealth bisa berakibat fatal.

Dunia dan Narasi: Kekuatan Sebenarnya dari Afterlife

Jika gameplay-nya bisa diperdebatkan, dunia dan cerita Afterlife adalah penjualan utamanya. Ini bukan sekadar latar belakang, tapi karakter itu sendiri.
Storytelling Environmental yang Luar Biasa
Afterlife mengadopsi filosofi “show, don’t tell”. Kamu tidak akan dapat info-dump tentang apa yang menyebabkan dunia runtuh. Sebaliknya, kamu menyusun ceritanya dari catatan yang tersebar, grafiti di dinding, susunan kerangka di sebuah ruangan, atau rekaman audio yang terputus-putus. Saya masih ingat menemukan serangkaian catatan di sebuah apartemen yang perlahan mengungkap kisah seorang ayah yang putus asa mencoba melindungi anaknya. Tidak ada quest marker untuk ini—hanya imbalan emosional bagi yang mau menjelajah. Menurut wawancara dengan narator game di situs IGN, pendekatan ini disengaja untuk menciptakan pengalaman yang personal dan reflektif.
Karakter dan Moral Ambiguity
Tidak ada pilihan yang sepenuhnya “baik” atau “jahat”. Haruskah kamu memberikan sisa obat yang langka kepada pemukim sakit, atau menyimpannya untuk timmu sendiri? Memberikan makanan kepada anak yatim bisa berarti mengurangi jatah untuk anggota kelompokmu yang lain. Konflik moral ini terasa berat karena game dengan baik membangun ikatan antara pemain dan NPC melalui interaksi kecil sehari-hari di markas. Kamu bukan pahlawan super; kamu seorang survivor yang membuat keputusan sulit.
Keterbatasan Narasi
Sayangnya, ending game ini agak tergesa-gesa. Setelah puluhan jam membangun ketegangan dan misteri, klimaksnya terasa seperti hanya memilih satu dari beberapa slide presentasi yang menentukan nasib beberapa karakter. Banyak alur cerita sampingan (side-quest) yang menarik tidak mendapat penyelesaian yang memuaskan, mungkin disisakan untuk DLC atau sekuel.

Aspek Teknis dan Performa: Sudah Layak Dimainkan?

Pada masa peluncuran, Afterlife terkenal karena bug dan optimasi yang buruk. Lalu bagaimana kondisinya sekarang, di awal 2026?
Peningkatan Signifikan Pasca-Patch
Setelah lebih dari setahun dan belasan patch, pengalaman saya cukup mulus. Saya bermain di PC dengan spesifikasi menengah (RTX 3060, Ryzen 5 5600X) dan mendapatkan rata-rata 75-80 FPS pada pengaturan High di resolusi 1080p. Frame rate tetap stabil bahkan di area dengan banyak objek. Bug yang mengganggu seperti quest yang tidak bisa diselesaikan atau item yang hilang sebagian besar telah diperbaiki. Namun, laporan dari pemain konsol (terutama generasi lama) masih mengeluhkan pop-in tekstur dan frame drop sesekali di area terbuka.
Audio dan Visual Pembangun Atmosfer
Ini adalah bidang di mana Afterlife bersinar. Desain suaranya memukau—dari derit angin di antara gedung pencakar langit, hingga suara langkah kaki yang berbeda di atas puing-puing, air, atau logam. Musik ambient-nya minimalis dan sempurna, hanya muncul pada momen-momen tertentu untuk memperkuat emosi. Secara visual, meski menggunakan grafis yang tidak terlalu cutting-edge, seni arah dan pencahayaannya luar biasa. Penggunaan warna-warna suram dengan aksen neon menyala menciptakan identitas visual yang kuat dan melankolis.

Nilai Hiburan & Rekomendasi Akhir: Untuk Siapa Game Ini?

Jadi, apakah Afterlife game yang bagus? Jawabannya sangat tergantung pada profil kamu sebagai pemain.
Afterlife TEPAT untuk kamu jika:

  • Menikmati game dengan pace lambat dan atmosfer kuat seperti Disco Elysium (tanpa combat) atau Pathologic.
  • Senang dengan storytelling environmental dan bersedia “membaca” lingkungan.
  • Mencari pengalaman yang lebih tentang refleksi dan ketegangan daripada aksi murni.
  • Tidak masalah dengan repetisi tertentu (seperti perjalanan pulang-pergi) asalkan punya tujuan yang jelas.
    Afterlife MUNGKIN BUKAN untuk kamu jika:
  • Menginginkan action-RPG dengan combat intens dan banyak loot.
  • Tidak sabar dengan game yang membutuhkan waktu untuk “mulai”.
  • Menginginkan cerita dengan alur yang jelas, plot twist besar, dan ending yang epik.
  • Bermain di konsol lama dan sangat sensitif terhadap masalah performa.
    Verdict:
    Afterlife adalah game niche yang dilaksanakan dengan sangat baik. Ini bukan game untuk semua orang, dan itu tidak masalah. Bagi audiens yang tepat, game ini menawarkan pengalaman yang dalam, atmosferik, dan sulit dilupakan. Gameplay-nya memiliki kedalaman strategis, meski dibatasi oleh pace yang disengaja dan beberapa jank. Narasinya adalah kekuatan utama, disampaikan dengan cara yang cerdas dan menghormati kecerdasan pemain.
    Jika profilmu cocok dengan kategori pertama di atas, Afterlife adalah investasi waktu yang berharga, terutama jika didapat saat diskon. Jika tidak, kemungkinan besar kamu akan merasa bosan dan menyerah dalam beberapa jam. Afterlife tidak mencoba menjadi yang terbaik dalam segala hal; ia mencoba menjadi sesuatu yang spesifik dan unik—dan dalam hal itu, ia berhasil.

FAQ: Pertanyaan yang Sering Ditanyakan Pemain

1. Apakah Afterlife memiliki sistem combat?
Ya, tetapi sangat minimal dan lebih mengandalkan stealth dan persiapan. Combat bersifat real-time with pause, mirip Fallout klasik, tetapi tidak terlalu dikembangkan. Lebih sering kamu akan memilih untuk menghindari konfrontasi langsung.
2. Berapa lama waktu untuk menyelesaikan game ini?
Untuk menyelesaikan cerita utama dengan sedikit eksplorasi, dibutuhkan sekitar 18-22 jam. Jika kamu ingin menyelesaikan semua side-quest dan menemukan semua catatan cerita, bisa mencapai 30-35 jam.
3. Apakah ada pilihan kesulitan (difficulty)?
Tidak ada pengaturan kesulitan tradisional. Namun, tantangan utama berasal dari manajemen sumber daya yang ketat dan keputusan moral. Beberapa patch menambahkan opsi untuk menyesuaikan tingkat keausan alat dan kebutuhan makanan, yang secara efektif mengatur kesulitan.
4. Apakah performa di PlayStation 4 / Xbox One sudah baik?
Sudah jauh lebih baik sejak peluncuran, tetapi masih ada masalah frame rate yang tidak stabil dan waktu muat yang lebih lama dibandingkan versi PC atau konsol generasi baru. Jika memungkinkan, versi PS5/Xbox Series lebih direkomendasikan.
5. Apakah ending-nya open-ended? Apakah akan ada sekuel?
Ending-nya memberikan penutup untuk alur cerita utama tetapi meninggalkan banyak pertanyaan tentang dunia yang lebih luas. Pengembang telah menyatakan minat untuk melanjutkan dunia Afterlife melalui postingan di media sosial mereka, tetapi belum ada pengumuman resmi mengenai sekuel atau DLC besar.

Post navigation

Previous: Street Dribble: 5 Teknik Dasar Wajib Dikuasai Pemula untuk Lawan Bot dan Pemain Nyata
Next: Mengatasi Meta ‘Too Many Ninjas’: 5 Strategi Formasi dan Counter Terbukti Efektif

Related News

自动生成图片: A stylized, addictive mobile game screen showing a cute chicken character in a simple pixel art dungeon, vibrant colors, dynamic action with coins and enemies, clean UI with a score counter, soft glow effects, top-down perspective high quality illustration, detailed, 16:9
  • Ulasan Game

Mengapa Super Fowlst Bikin Ketagihan? Analisis Psikologi Gameplay dan Desain Level

Ahmad Farhan 2026-02-01
自动生成图片: Top-down view of a pixelated red sports car weaving between trucks and cars on a multi-lane highway, dynamic motion blur effect, vibrant arcade-style colors, browser window frame around the game scene high quality illustration, detailed, 16:9
  • Ulasan Game

Freeway Fury 2 HTML5: Ulasan Lengkap Gameplay, Grafis, dan Tips Rahasia Mendapatkan Skor Tertinggi

Ahmad Farhan 2026-01-30
自动生成图片: A modern, minimalist collage showing three distinct snake game styles side by side: a sleek neon snake in a geometric maze, a cute pixel-art snake in a vibrant garden, and a fierce, detailed serpent in a dark fantasy arena, all on a soft pastel background high quality illustration, detailed, 16:9
  • Ulasan Game

Game Snake yang Keren dan Seru di 2026: Rekomendasi Terbaik dari Hyper-Casual sampai Multiplayer Kompetitif

Ahmad Farhan 2026-01-25

Konten terbaru

  • 5 Adventure Drivers Terpenting dalam Game: Rahasia di Balik Pengalaman Petualangan yang Tak Terlupakan
  • Zombies Ate My Castle: 5 Strategi Jitu Bertahan dari Gelombang Zombie Terakhir dan Raih Kemenangan
  • Turn Undead di RPG: Panduan Lengkap Cara Kerja, Strategi Efektif, dan Game yang Paling Epic Menggunakannya
  • Ninja Action 2: 5 Kesalahan Pemula yang Bikin Kamu Gagal Total dan Cara Mengatasinya
  • Panduan Lengkap Fast Food Dumpster Adventure: Dari Pemula Jadi Master dalam 5 Langkah
Copyright © All rights reserved. | Ulasan Game by Ulasan Game.